life

Sesuai Jalur

October 06, 2017

Saya suka memperhatikan orang-orang disekitar saya, dan kadang, orang yang baru saya temui pun saya ajak ngobrol. Mungkin udah bawaan, mulut ini pengennya gerak terus. Bagi saya, mendengar cerita orang lain sama dengan diberi kesempatan memasuki sedikit bagian dari kehidupannya. Jarang-jarang kan, bisa mengetahui potongan dari kehidupan seseorang. Mana tau beliau kelak menjadi seorang gubernur, siapa tau kan. Dan kita sudah lebih dulu tau perjalanan hidupnya.
Dan dari banyak orang yang saya temui, semuanya memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Memiliki rintangan yang tak sama. Dan pula, cara menghadapi masalah pun berbeda. Ada yang penuh tangis, ada yang jatuh dulu, kemudian langsung berlari, dan ada yang tetap tersenyum, berdamai dengan keadaan. Menjalani takdir Tuhan sebaik yang dia mampu. Untuk yang disebutkan terakhir, saya acungkan semua jempol yang saya miliki.
Untukmu yang sedang berjuang, apapun masalah hidupmu, semoga Tuhan kokohkan pundakmu, lapangkan dadamu, dan luaskan sabarmu.
Untukmu, jangan terpaku pada hidup oranglain. Apa yang mereka anggap sukses, belum tentu baik bagimu.
Saya percaya, Tuhan punya rencana yang baik bagi orang-orang yang menjalaninya dengan legowo.
Dan ketika semua sudah terlewati, kuharap kau tak menjadi jumawa.
Tetaplah menjadimu yang sederhana.

life

Wanita dan Pendidikan

August 13, 2017


Akhir-akhir ini, ada postingan viral mengenai pendidikan dan wanita, bahwa wanita tidak perlu menempuh pendidikan yang tinggi, percuma wanita sekolah tinggi-tinggi sampai S3, S teler... Dan entah saya yang salah tangkap, sepertinya inti tulisan itu menyiratkan bahwa wanita yang penting mau dan dapat mendampingi suaminya, di suka maupun duka. Dan itu tidak butuh pendidikan yang tinggi.
Eh?
Jujur, saat membacanya, alis saya jadi naik sebelah. Cukup kaget, di era seperti ini masih ada yang berpikiran seperti itu. Tapi, tentu saya tidak bisa menyalahkan si penulis, dan saya juga tidak menyalahkan bila ada teman-teman yang punya prinsip seperti yang saya sebutkan diatas. Wanita―dan disini konteksnya istri―memang berperan sebagai pendamping bagi suami, dan suami sebagai nahkoda bagi bahtera rumahtangga. Untuk praktiknya, mungkin saya belum bisa gambarkan karena saya sendiri sampai saat ini belum berumahtangga.
Namun, izinkan saya yang pengetahuannya terbatas ini menyampaikan opini saya. Bagi saya pribadi, pendidikan bagi wanita itu bagaikan akar, yang akan menghujam ke tanah, menyerap sari-sari makanan sehingga tanamannya bisa tumbuh subur dan berbuah lebat, dengan rasa yang nikmat. Begitu pula pendidikan, ilmu yang seorang wanita dapatkan kelak akan berbuah manis, tidak hanya bagi wanita tersebut, bisa jadi manfaat untuk suami, anak-anak, dan masyarakat. Mengenyam pendidikan itu, bukan hanya masalah materi yang didapatkan saat duduk manis di bangku perkuliahan, tapi lebih banyak didapatkan saat proses menempuh pendidikan tersebut. Lets say, saat berorganisasi, KKN, atau menjalankan praktik lapangan. Dengan bertemu orang-orang baru juga memperkaya pengalaman dan pengetahuan. 
Saya juga meyakini, wanita yang memiliki pendidikan terbaik, akan mendidik anak-anaknya dengan baik pula. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu dengan pendidikan yang baik tentu akan memberikan pengajaran terbaik bagi anaknya. Pendidikan bukan semata-mata untuk memenuhi ego pribadi dan untuk dibangga-banggakan, seorang wanita dengan pendidikan yang baik tentu memiliki jiwa ingin belajar dan rasa ingin tau yang baik, serta orang yang senantiasa mau menerima informasi dan pengetahuan yang akan memperkaya dirinya. Bukan hal yang mudah lho melanjutkan pendidikan lagi, belajar lagi, bersusah-susah penelitian lagi, perlu upaya ekstra lho, ngomong-ngomong.
Dan yang terakhir, pesan bagi setiap lelaki: jangan minder duluan. Saya adalah salah satu wanita mempertimbangkan untuk melanjutkan pendidikan saya ke pascasarjana. Banyak banget yang ngasih wejangan "mi, gak usah S2 dulu. Ntar nggak ada cowok yang mau"Atau "S2? Nanti cowok pada takut. Ntar telat nikah" Yah, belum tentu mau lanjut atau enggak, udah ditakut-takutin duluan.Ya Allah :') Beneran, tujuan saya S2 pure karena saya pengen mendalami bidang saya. Bukan, bukan untuk bangga-banggaan, bukan pula untuk menyaingi lelaki, apalagi bikin laki-laki takut :(
Bagi lelaki, jadilah laki-laki yang berprinsip dan penuh tanggung jawab. Jangan jadi lelaki yang belum apa-apa udah takut, minder duluan, merasa ndak pantes. Ada lho lelaki begitu, padahal bisa jadi gayung bersambut, kan?Sekian coretan saya di Minggu yang cerah ini, semoga masih bertemu di Senin!

life

The Art of Pursue

August 01, 2017


Tahun ini adalah tahun yang cukup hectic bagi sebagian dari kami. Ada yang sibuk skripsi, ada yang masih sibuk sama kuliahnya, ada yang udah wisuda dan apply S2 di Universitas luar Sumatera, ada yang cari kerja lamar sana-sini, dan ada yang (sepertinya) siap-siap untuk...dilamar. Dan masih banyak lagi. Ketika bertanya kabar ke teman-teman, jawabannya sudah mulai beragam. Yang biasanya kalau ditanya sibuk apa, dan jawabannya juga macam-macam. 
Kalau temen wisuda atau dapat kerja, kita dong yang seneng. Walaupun ada bagian dari hati kecil  yang bilang "kamu kapan?". Dan, pasti ada rasa kehilangan ketika temen wisuda atau merantau. Ada rasa kehilangan yang bersembunyi dibalik euforia kebahagiaan itu.
Dia yang biasanya mudah ditemui, kalau ke kampus ketemu. pulang bareng, sharing hal-hal masalah kuliah dan organisasi, diskusi... ah, satu persatu mulai pergi dan menyisakan rasa rindu. Disinilah teknologi dirasa sangat membantu menghubungkan satu sama lain. 
Ada juga yang sudah menikah. Rasanya kemarin dia masih pergi makan bareng kita, ketawa-tawa bareng, eh, sekarang udah jadi istri orang. Lucu nggak sih?
Dan lagi-lagi bagi yang menyaksikan life stage tersebut, akan menyisakan pertanyaan "aku kapan?"
Well, merasa ditinggal itu wajar, kok. Ketika hal-hal yang biasanya ada di keseharian kita mendadak hilang, pasti ada rasa kehilangan. Apalagi hal itu berkaitan sama diri kita. Pertanyaan-pertanyaan yang bikin sesak dada pasti ada :') Tapi ingat, tiap orang punya timing yang berbeda. Nggak ada jaminan siapa yang paling cepat wisuda, dia yang paling bagus karirnya, atau yang paling pintar diangkatan, pasti cepet lulusnya. Kadang pencapaian di kehidupan nggak selalu punya korelasi yang positif dengan pencapaian lainnya. Tuhan Maha adil. Bisa jadi yang paling mulus karirnya, dia mengorbankan target menikahnya untuk karir. Yang pertama wisuda, mungkin dia udah melalui ratusan malam tanpa tidur dan berkorban banyak hal. Dan, mungkin Tuhan menjauhkan satu hal dari kita, untuk kebaikan kita juga. Misalnya, kalau kita yang paling cepet lulusnya, jangan-jangan kita malah jadi sombong dan lupa diri!
Satu hal yang perlu diingat adalah: usaha. Berusalah semaksimal mungkin. Tentu ada yang harus dikorbankan. Ada juga yang biasanya 'nggak aku banget' tapi harus kita lakukan. Coba ingat-ingat pengorbanan kita sebelum-sebelum ini sehingga kita sampai ditahap yang sekarang.
Percayalah, God's time is perfect. 

life

Betah Sendiri

March 04, 2017


Kalau reunian sama temen-temen lama, kayak temen SMA, mereka pasti nanyain "masih jomblo nggak?" "kok sendiri aja?" atau "tapi pasti ada yang kamu suka kan?" dan biasanya jawaban saya "hehehehehe". Dan akhirnya banyak pertanyaan bermunculan di benak, seperti layaknya pop-up gitu. Diantaranya "emang salah ya kalo umur segini masih single? masih kuliah juga". Iya, saya masih punya banyak tanggung jawab yang harus sala selesaikan. Tanggung jawab sebagai mahasiswa, sebagai anak dari papa mama saya, sebagai anggota dari sebuah forum, dan tanggung jawab lainnya yang bahkan belum saya selesaikan. Masa saya harus nambah kerjaan dengan ngurusin hidup satu orang lagi, yang mungkin lebih complicated dari hidup saya? Malesin banget kan. Sebenernya hubungan romantis diluar nikah kan emang dilarang sama agama, itu salah satu alasan saya nggak punya pasangan dan mikir ribuan kali untuk punya pasangan (sebelum nikah). Dan kalau melontarkan alasan itu temen-temen ada aja yang mencibir. Padahal kan itu prinsip, ya. Makanya saya masih single. Dan banyak alasan disamping prinsip utama itu. Saya juga sebel dikepoin, sebenarnya. Ditanyain "udah makan belom?" "udah sholat belom?" "semangat ya proposalnya" memang terkesan perhatian, dan dulu emang sempat seneng sih diperhatiin. Tapi lama-lama saya eneg sendiri. Muncul lagi pertanyaan "nih orang nggak ada kerjaan nanyain beginian? apa manfaatnya dia nanyain gituan? toh gue tetep bisa berbohong dengan jawab udah, dan dia percaya aja" seriusan deh. Dulu saya pernah juga kok pdkt atau apalah namanya, dan pernah juga di pdktin. Tapi lama-lama saya yang bosen. Maksudnya... I expect more for my future relationship. Menurut saya lebih baik dia ngurusin urusan yang bikin hidup dia lebih berguna (kayak selesain tugas akhirnya) dan saya siapin proposal saya. Itu lebih baik, kan? Jadi sibuk saya dan sibuknya dia itu berguna. Setidaknya, berguna biar kami cepet rampung S1, cari pengalaman atau kerja, dan nikah.
Alasan selanjutnya, saya mudah terbagi perhatiannya. Nanti saya malah sibuk ngeladenin chatnya dia. Nggak deh.
Dan yang terakhir, sebenarnya saya bukannya gak pernah suka-sukaan sama makhluk yang namanya lelaki kok, pernah. Tapi, buat apa menjalin hubungan? Ya, selagi hidup masih layak diperjuangkan sendiri, kenapa harus repot-repot cari tanggungan lain buat diselesain?
Terakhir, saya pernah suka sama orang. Atau kagum. Dan sekarang pun mungkin hati saya menyimpan satu nama. Tapi, buat apa saya kasih tau ke dia? Cukup saya doakan. Kalau jodoh, alhamdulillah. Kalau enggak, ya saya bukan yang terbaik buat dia dan sebaliknya, pasti ada yang terbaik untuk kami berdua.
Ada satu kutipan bagus buat temen-temen yang lagi jatuh cinta, 
Kadang, mencintai seseorang hanya perlu memastikan orang itu berada dalam kebaikan. Itu lebih berarti dibanding dia selalu ada disisimu...dalam keburukan (Putri Turandokht dalam Muhammad 2)
Tidak salah mengagumi seseorang, tapi jika belum saatnya, simpan saja rasa itu. Banyak hal lain yang harus dilakukan anak muda, mintakan yang terbaik pada Sang Perencana. Sibukkan diri dengan hal bermanfaat. Semoga sibukmu dan sibuknya menuntun kalian ke hal yang bermanfaat.
Semoga bermanfaat

life

Ruang Sendiri

February 22, 2017


Postingan ini bukan ngebahas lagunya Tulus ya, bukan. Tapi pengen berbagi pengalaman aja.
Ada seseorang yang cerita ke saya, kalau dia lagi suka sama seseorang (yap, suka. Baru suka, loh). And good news, gayung bersambut. Cowok itu juga ngeh dan deketin dia. Setelah pendekatan yang intensif sepertinya cowok itu makin suka deh sama ini temen. Tapi.... Lain hal dengan si cewek (temen saya). Dia malah ngerasa makin hambar. Makin nggak ngerti sama apa yang lagi dilaluinya. Atau tepatnya, dia udah ilfeel sama cowok itu. Dan cowok itu malah makin suka ke dia, dengan segala kelemahlembutan, kebaikan, dan kepintaran temen saya (tambahan, dia cantik). Akhirnya dia memutuskan untuk menjauh dan pamit. Selesai.
Masalahnya, menurut dia ini udah kali kesekian dia begitu. Selalu mengalami hal yang sama, dan menurut saya kualitas cowok-cowok yang ngajak dia kenalan itu cukup oke lah buat dijadikan pendamping hidup. Katanya, dia selalu ngeliat kekurangan cowok-cowok itu. Ada yang pinter, tampang oke, kurangnya anu. Baiklah, karena saya suka berbaik sangka, saya harap itu adalah cara Allah menjauhkan teman saya dari cinta yang salah, sampai ada lelaki yang mendekatinya dengan cara yang baik (baca: datengin Papanya dia). Kalau itu saya juga mau sih. Tapi jangan sekarang, semoga di waktu yang tepat dan orang yang tepat (semoga ada yang meng aamiin kan). 
Balik ke masalah temen saya, dia berharap punya pacar. Alasan dia pengen pacaran sepele : nyobain gimana rasanya punya tukang ojek yang mau anter jemput kesana kemari, mau nemenin makan, mau ngapain pun ada pacarnya yang nemenin, itu bayangan dia. Dan saya? cuma bisa senyam senyum aja karena saya juga nggak tau gimana rasanya punya pacar. Dan saya ngerasa oke oke aja sendiri.
Dari curhatan temen saya, saya jadi mikir.
Kok aku seneng-seneng aja ya sendiri?
Apakah saya abnormal? Tentu tidak. Maksudnya, saya rasa hidup saya masih pantas saya perjuangkan sendiri. Masih bisalah saya nyelesein masalah-masalah hidup saya, dan rasanya belum perlu ditambah dengan masalah hidup (berdua) lainnya. Lagian saya masih muda, baru juga 22 tahun. Masih banyak hal yang pengen saya lakukan sendiri, atau bareng temen-temen saya. Terus jadinya saya mikir "emang kalo punya pacar semuanya dilakuin bareng gitu?" bukannya si pacar bakal punya kesibukan lain? Terus, minta anter sana sini nggak pake duit? Bensin gitu. Secara si pacar dalam bayangan saya ini masih kuliah dan pastinya masih dalam pembiayaan orangtuanya. Dan pasti kalau punya pacar, dia bakal ngegerecokin nanya lagi dimana, Padahal saya butuh banyak ruang sendiri, kalau boleh jujur. d

Popular Posts